GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Pendidikan
Beranda » Berita » Melampaui Sekadar Perayaan : Mewujudkan Kemandirian dan Martabat Lansia NTTMelalui “Sekolah Ramah Lansia”

Melampaui Sekadar Perayaan : Mewujudkan Kemandirian dan Martabat Lansia NTTMelalui “Sekolah Ramah Lansia”

# Oleh: Fransiskus Xaverius Nong
(Kepala UPTD Kesos Lansia pada Dinas Sosial Provinsi NTT)

WARTATIMOR.COM — Setiap tahun, pada tanggal 29 Mei, Indonesia memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN). Tahun 2026 ini, peringatan HALUN ke-30 mengusung tema : “Lansia Tangguh, Indonesia Maju.” Momen ini bukan sekadar seremonial potong tumpeng atau senam bersama. Ini adalah refleksi kritis tentang bagaimana kita merawat populasi yang semakin menua di tengah tantangan Kesehatan, relasi /interaklsi sosial yang makin regang antar generasi akibat kooptasi waktu oleh gadget / media sosial, himpitan ekonomi mengakibatkan kesibukan generasi produktif dalam pekerjaan sehingga kehilangan waktu untuk memperhatikan lasia.

Fenomena aging population (penuaan penduduk) berjalan beriringan dengan transisi demografi dan dipengaruhi berbagai hasil pembangunan terutama di bidang kesehatan. Akibatnya, banyak lansia menghadapi realitas pahit akan kurangnya perhatian dan tingginya ketergantungan akibat usia yang semakin menua sementara fisiologis tubuh tidak dapat menyesuaikan. Ketergantungan ini bukan hanya soal fisik yang melemah, tetapi juga ketergantungan emosional, sosial, finansial, dan akses terhadap layanan dasar. Pertanyaannya, apakah sistem sosial kita saat ini sudah siap menjawab kerentanan tersebut?

Jebakan Kesepian (kurangnya perhatian), Ketergantungan dan Hilangnya Otonomi
Masalah utama yang sering luput dari perhatian adalah pergeseran peran lansia dari subjek yang mandiri menjadi objek yang sepenuhnya bergantung. Namun, ketika dukungan keluarga minim karena tekanan ekonomi atau jarak, lansia sering terjebak dalam isolasi dan kurangnya perhatian bahkan terlantar.

Ketergantungan total menciptakan rasa tidak berdaya (learned helplessness). Lansia merasa dirinya beban. Mereka kehilangan otonomi atas tubuh dan keputusan hidup mereka sendiri. Padahal, kunci kebahagiaan lansia bukanlah sekadar diberi makan, melainkan perhatian dan merasa berguna serta dihargai. Ketika kebutuhan dasar seperti pangan bergizi, akses kesehatan primer dan interaksi sosial tidak terpenuhi secara holistik, kualitas hidup mereka menurun drastis, hingga depresi geriatrik.

Universitas Citra Bangsa dan Pemkab TTS Perkuat Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Kesehatan

Memenuhi Kebutuhan Esensial : Lebih Dari Sekadar Fisik

Untuk memutus rantai ketergantungan negatif, kita harus mendefinisikan pemenuhan kebutuhan lansia. Kita perlu pendekatan berbasis hak, martabat dan pemberdayaan.

1. Kebutuhan esensial lansia tidak hanya terbatas pada kebutuhan fisik seperti makanan, sandang, tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan.

2. Lansia juga membutuhkan perhatian pada aspek psikologis, sosial, emosional, dan spiritual.

3. Lansia berhak untuk didengar, dihargai, dilibatkan, serta memperoleh perlindungan dan rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat.

UCB dan Pemkab Ngada Tandatangan PKS, Bupati Raymundus Dorong Tamatan SMA Kuliah Kedokteran di Universitas Citra Bangsa

4. Lansia bukan sekadar objek pelayanan sosial, tetapi subjek yang tetap memiliki potensi, pengalaman, dan nilai kehidupan yang berharga.

5. Pemberdayaan lansia penting dilakukan agar mereka tetap aktif, produktif, mandiri, dan merasa bermakna sesuai kemampuan yang dimiliki.

6. Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah perlu menciptakan budaya yang inklusif dan ramah lansia.

7. Pemenuhan kebutuhan lansia harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup, kesejahteraan, dan kebahagiaan lansia secara menyeluruh.

Ide Inovasi: Membentuk “Sekolah Ramah Lansia” di NTT

Serena Francis Buka Jambore Pramuka Kota Kupang Di Fatubena, 430 Peserta Terlibat

Jika panti jompo sering dianggap sebagai “tempat menunggu akhir hayat” yang stigmanya masih negatif dimasyarakat, maka kita butuh model alternatif. Dalam rangka HALUN 2026 baiklah sebuah ide akan pembentukan “Sekolah Ramah Lansia” (SRL) sebagai ikon perayaan HALUN 2026 dapat diinisiasi. J okkoika sekolah ramah anak telah menjadi program Nasional maka kenapa tidak program sekolah ramah lansia dapat digulirkan agar sejak dini peserta didik ditanamkam karakter positif dalam menghargai dan memperhatikan orang tua termasuk ayah-ibu, kakek-nenek dalam lingkungan rumah maupun ditengah Masyarakat? Inisiasi dimulai dari NTT, kenapa tidak sebuah ide berasal dari NTT, sejalan dengan spirit from NTT inspiring Indonesia?

Apa itu Sekolah Ramah Lansia?

Sekolah ramah Lansia merupakan sebuah pendekatan Pendidikan yang diintegrasikan kedalam kurikulum sekolah formal sebagai Upaya menanamkan nilai kepedulian, penghormatan, kasih sayang dan tanggungjawab sosial terhadap lanjut usia sejak dini. Melalui kegiatan pembelajaran, praktik sosial serta interaksi langsung dengan para lansia, peserta didik diajak memahami bahwa lansia Adalah pribadi yang berjasa, bermartabat dan patut dihargai keberadaannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Sekolah yang menerapkan prinsip sekolah ramah lansia diharapkan menjadi Pusat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah kesehariannya. Konsep ini mengadaptasi prinsip Active Aging dari WHO.

Berikut beberapa pilar utama dalam pelaksanaan Sekolah Ramah Lansia yang dapat diterapkan di lingkungan pendidikan formal :

1. Pendidikan Karakter dan Empati
Menanamkan nilai hormat, kasih sayang, sopan santun, kepedulian, serta empati kepada peserta didik terhadap lansia sejak usia dini.

2. Integrasi dalam Kurikulum Pembelajaran
Materi tentang penghormatan terhadap lansia, kesehatan lansia, nilai kekeluargaan, dan budaya menghargai orang tua dimasukkan dalam mata pelajaran maupun kegiatan sekolah.

3. Interaksi Antar Generasi. Membangun kegiatan yang mempertemukan siswa dengan lansia melalui kunjungan sosial, berbagi pengalaman hidup, pendampingan, atau program bakti sosial.

4. Lingkungan Sekolah yang Inklusif
Menciptakan budaya sekolah yang menghargai semua usia, termasuk menyediakan akses dan pelayanan yang nyaman bagi lansia yang berkunjung ke sekolah.

5. Pelibatan Keluarga dan Masyarakat
Mengajak orang tua, komunitas, panti lansia, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama mendukung pendidikan ramah lansia.

6. Penguatan Nilai Moral dan Budaya Lokal
Menanamkan budaya menghormati orang tua dan lansia sebagai bagian dari nilai luhur bangsa dan kehidupan bermasyarakat.

7. Kegiatan Sosial dan Pengabdian
Mengembangkan program nyata seperti “Sahabat Lansia”, kunjungan ke panti, bantuan sosial, pemeriksaan kesehatan, atau kegiatan hiburan bagi lansia.

8. Pendidikan Kesehatan dan Kepedulian Lansia

Memberikan pemahaman kepada siswa mengenai proses penuaan, kesehatan fisik dan mental lansia, serta pentingnya menjaga kesejahteraan mereka.

Dengan adanya SRL, kita mengubah narasi lansia dari “beban pembangunan” menjadi “aset kebijaksanaan”. Lansia yang sehat, aktif dan tersambung secara sosial akan mengurangi beban biaya kesehatan jangka panjang negara dan meningkatkan harmoni sosial di keluarga.

Penutup : Komitmen Bersama

Peringatan HALUN 2026 di NTT harus menjadi titik balik. Mari kita berhenti melihat lansia hanya sebagai penerima belas kasihan. Mari kita bangun ekosistem di mana mereka bisa menua dengan martabat, kemandirian dan kegembiraan.

Sekolah Ramah Lansia bukan hanya tentang program pendidikan, tetapi tentang membangun generasi yang berakhlak, menghargai kehidupan dan memuliakan mereka yang lebih dahulu berjalan dalam perjalanan hidup.

Karena pada akhirnya, cara kita memperlakukan lansia hari ini adalah cerminan dari bagaimana kita ingin diperlakukan besok. Selamat Hari Lanjut Usia Nasional 2026. Semoga Lansia NTT semakin tangguh, mandiri dan bahagia.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement