Penulis : Vinsen Belawa Lemaking (Orang Lembata)
KABAKIA.COM — Saya tersentak ketika melihat potret dan video seorang pejabat meniti jagung. Ini jarang terjadi, seorang pria melakukan pekerja wanita apalagi dengan pakian dinas lengkap dengan sepatu. Inilah potret seorang Kepala Dinas saat itu dan Saya yakin ini juga menjadi salah satu magnet pendorong Beliau terpilih menjadi Bupati Lembata saat ini.
Banyak sekali kritik ketika sang Bupati mengadakan festival titi jagung. Banyak judul berita miring terhadap ini namun tidak sedikit juga berita yang mendukung. Sayang publik tidak pernah melihat atau mendengar langsung tanggapan masyarakat akar rumput. Kita hanya disugukan dengan perang pena antar akademisi papan atas, perang opini antara para pemikir dan aktivis elit dengan bahasa tinggi yang sulit dimengerti oleh masyarakat pada umumnya.
Mungkin inilah arena pertarungan yang hanya boleh dinikmati oleh mereka yang banyak membaca buku. “Makanya rajin baca biar mengerti” demikian celoteh beberapa kawan di moting tobi.
Lembata Negeri para pemikir yang jarang berbuat sesuatu untuk membangun Lembata dengan aksi nyata (termasuk Penulis). Kita selalu terganggu jika ada orang yang melakukan aksi nyata untuk sebuah perubahan. Ada Anggota DPR blusukan dari lango ke lango dianggap pencitraan.
“Ialahh… masa pi ketemu warga miskin harus pake jas lengkap dan kaca mata” demikian kata salah satu Ama di atas perahu. Ada lagi Bupati yang titi jagung dan meraka langsung menyerang dengan “Hermeneutika” ada udang di balik batu.
Lantas siapa yang benar dan siapa yang salah? Sebuah narasi menarik dari seorang sahabat Saya yang kesehariannya sebagai Ketua BPD salah satu desa di Lemabata.
“Akademisi dan kaum intelektual biarkanlah dengan tulisannya yang panjang-panjang. Pemerintah biarkanlah dengan festival dan berbagai perlombaan. Bapa mama, masyarakat sederhana yang di kampung-kampung biarkanlah ke kebun, ke laut, ke dagel-dagel, dan sesekali dimobilisasi ke festival dan perlombaan yang digelar pemerintah.
Tugas kita, duduk bersama Bapa Mama dan masyarakat sederhana yang di kampung-kampung itu, terjemahkan tulisan akademisi dan kaum intelektual yang panjang-panjang itu sambil minum tuak dan makan jagung titi”.
Sebuah ungkapan penuh arti. Bahwa yang dibutuhkan oleh Lembata adalah visi atau mimpi yang besar dan aksi nyata yang tulus untuk membangun. Masyarakat kecil tidak mengerti kata-kata tinggi mereka hanya tau bahwa Bupati mereka bisa titi jagung. Itu saja.
Harapan mereka program Bupati bisa masuk sampai ke dapur ina-ina yang sarat asap kayu bakar, mengisi gentong air mereka dengan air bersih dan periuk/luba mereka dengan makanan bergizi.
Cita-cita mereka sederhana, dari telapak tangan yang pecah akibat meniti jagung dapat menghasilkan para sarjana yang kembali membangun Lembata lewat aksi nyata dengan membawa Masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan ini.
(*)





Komentar