KABAKIA.ID — Tangis bayi sering kali menjadi pemecah keheningan malam di desa terpencil, tak terkecuali Desa Uzuzozo di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tangis yang kemudian menjadi kebahagiaan bagi orang tua si Kecil dan juga seorang bidan bernama Theresia Dwiaudina Sari Putri.
Meski sekolah kebidanan berawal dari keinginan orang tua dan membuat Dini–sapaan akrab Theresia–harus mengubur mimpi di bidang musik yang digandrunginya, kepedulian terhadap dunia yang lekat dengan ibu hamil dan bayi baru lahir ini tak perlu diragukan.
Kegigihannya dalam membangun kesadaran tentang kehamilan dan persalinan sehat, bahkan merangkul dukun beranak yang masyhur memang layak membuat Dini menjadi salah satu penerima Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Awards pada tahun 2023 lalu.

Doa orang tua jadi dorongan utama
Keputusan Dini menjadi bidan memang bukan berasal dari dirinya sendiri. Kedua orang tuanya adalah pihak yang mendorong ia melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, meski kala itu Dini lebih ingin menekuni musik.
Meski awalnya sempat bimbang, Dini akhirnya bisa menemukan makna baru atas hal yang diharapkan orang tuanya tersebut. Menjadi bidan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian yang layak diperjuangkan.
Sejak lulus Diploma 3 Kebidanan di Surabaya pada tahun 2016, Dini bahkan langsung pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Setelah setahun mengabdikan diri di kampung halaman, Dini memperkuat asa tersebut ke Desa Uzuzozo yang terbilang lebih membutuhkan.
Keterbatasan fasilitas yang kuatkan semangat
Sebagai desa yang termasuk wilayah 3T, ketersediaan fasilitas di Uzuzozo sangatlah terbatas. Puskesmas di sini hanya berupa bangunan kecil yang di dalamnya pun tidak ada peralatan kesehatan untuk memeriksa kesehatan ibu hamil.
Namun, keterbatasan ini tidak pernah mematahkan semangat Dini. Dengan sepeda motor kesayangannya, ia berkeliling desa, memeriksa ibu hamil, mendata kehamilan, hingga memberikan penyuluhan dari pintu ke pintu.
Dari data yang dimilikinya, Dini mengetahui bahwa sebagian besar ibu hamil di Uzuzozo memilih melahirkan di dukun beranak.
Berangkat dari keprihatinan atas realita yang dihadapi, Dini mengedukasi ibu hamil agar melahirkan di fasilitas kesehatan. Perjuangan Dini di sini tentu tak mudah karena ia harus turut mendekatkan diri dengan dukun beranak.
Atas semua pengorbanan dan inisiatifnya, Dini menerima gaji Rp1 juta per bulan di tahun 2017 kala itu, dengan kenaikan Rp100 ribu per tahun.
Bidan yang rangkul dukun beranak
Alih-alih mengerdilkan, Dini memilih merangkul dan bekerja sama dengan dukun beranak. Ia mendekati para dukun dan mengajak mereka berbagi peran agar keselamatan ibu dan bayi terjamin.
Dini mengambil peran dengan membantu ibu hamil selama proses bersalin, sementara dukun beranak membantunya mengurus bayi baru lahir. Dengan begini, dukun beranak tidak kehilangan pekerjaan dan tidak merasa terasingkan.
Perlahan, kolaborasi ini membuahkan hasil. Ibu-ibu hamil mulai berani memeriksakan kandungan dan melahirkan di fasilitas kesehatan.
Tidak berhenti di situ, Dini juga membuka layanan posyandu yang sekaligus menjadi tempat edukasi mengenai pentingnya makan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.
Asa ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat yang kemudian membagikan makanan bergizi gratis, seperti bubur kacang hijau saat datang ke posyandu.
Berbekal ketekunan dan hati yang tulus, perubahan besar pun terwujud. Angka stunting yang mencapai 15 anak di tahun 2019, perlahan menurun usai kedatangan Dini. Iwan Ray, Kepala Desa Uzuzozo saat itu juga menyebutkan bahwa tidak ada kematian ibu melahirkan sejak Dini bekerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Ende terus mengalami penurunan. Dari 14 persen pada 2021, menurun menjadi 9 persen pada 2022, dan kembali turun hingga 7 persen pada 2023. Atas dedikasinya, Theresia Dwiaudina Sari Putri memang layak menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2023 di bidang kesehatan.
Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi, melainkan pengakuan bahwa perjuangan seorang bidan dari desa kecil di NTT mampu memberi dampak besar. Dini membuktikan bahwa meski lahir dari keterbatasan, ketulusan dan semangat bisa membawa perubahan nyata bagi generasi mendatang.
(*)





Komentar