GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Bisnis
Beranda » Berita » DPD Perbarindo NTT Gelar Pelatihan Strategi Marketing Funding untuk BPR se-NTT, Robert P Fanggidae : BPR Sudah Boleh Terlibat dalam Sistem pembayaran

DPD Perbarindo NTT Gelar Pelatihan Strategi Marketing Funding untuk BPR se-NTT, Robert P Fanggidae : BPR Sudah Boleh Terlibat dalam Sistem pembayaran

DPD Perbarindo NTT Gelar Pelatihan Strategi Marketing Funding untuk BPR se-NTT

KUPANG, KABAKIA — Ketua Perbarindo NTT, Robert P Fanggidae mengatakan, Bank Perekonomian Rakyat (BPR) saat ini sudah boleh terlibat dalam sistem pembayaran. Ada keleluasan dari BPR untuk mencari sumber-sumber pendanaan termasuk mencari modal dari bursa efek atau pasar modal.

Hal ini dikatakan Ketua Perbarindo NTT, Robert P Fanggidae, dalam sambutannya pada Pelatihan Marketing Funding bagi pegawai BPR se-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar Perbarindo NTT di Hotel Harper Kupang, Sabtu 8 November 2025. Kegiatan pelatihan ini dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Japerman Manalu.

Kegiatan Pelatihan Marketing Funding bagi pegawai BPR se-Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diikuti jajaran direksi dan perwakilan karyawan dari semua BPR di wilayah Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan Pelatihan Marketing Funding pertama yang digelar bagi pegawai BPR se-Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Dengan ada perluasan kegiatan usaha ini, maka BPR sudah boleh terlibat dalam sistem pembayaran. Yang berikutnya, ada keleluasan pula dari BPR untuk mencari sumber-sumber pendanaan, BPR sudah boleh mencari modal dari bursa efek atau pasar modal, walau diakui saat ini belum ada BPR yang terdaftar atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata Robert P Fanggidae.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Bank Perekonomian Rakyat, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan Pelatihan Marketing Funding bagi pegawai BPR se-Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hari Susu Nusantara 2026, Wamentan Sudaryono Gaungkan Revolusi Susu untuk Anak Indonesia

Ini merupakan Pelatihan Marketing Funding pertama bagi pegawai BPR di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan pelatihan ini mengangkat topik hhusus yakni “Strategi Pemasaran Dana”.

Pelatihan Marketing Funding bagi pegawai BPR se-Nusa Tenggara Timur (NTT) digelar Perbarindo NTT di Hotel Harper Kupang pada Sabtu 8 November 2025, serta dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Japerman Manalu. Kegiatan pelatihan diikuti jajaran direksi dan perwakilan karyawan dari semua BPR di wilayah Nusa Tenggara Timur;

Dalam sambutannya, Ketua Perbarindo NTT, Robert P Fanggidae, mengatakan, pelatihan marketing funding dengan tema Strategi Pemasaran Dana sesuai dengan amanat Undang-Undang nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan yang menyebutkan bahwa tugas bank adalah menghimpun dan menyalurkan dana.

Sementara itu, berdasarkan data OJK per-September 2022, jika dibandingkan dengan Evaluasi Kinerja BPR pada bulan Juni 2025, berdasarkan data pada per Maret 2025, menunjukan bahwa pangsa pasar BPR semakin menurun.

“Kalau kita bandingkan dengan industri perbankan di NTT, pangsa pasar kita per Maret 2025 cuma 1,73% dari asset industri perbankan yang mencapai sebesar Rp52 triliun, jadinya hanya Rp 800 miliar lebih dana pihak ketiga di BPR dan ini adalah tantangan bagi kita. Tapi kita tidak perlu berkecil hati karena secara nasional pun, pangsa pasar BPR terus menurun di bawah 2 persen,” kata Robert P Fanggidae.

Mentan Amran Jawab Isu “Pesta Babi” di Merauke: Yang Kami Bangun Adalah Pesta Pangan

“Selama 17 tahun saya bekera di BPR, belum pernah sekalipun ada pelatihan funding. Kecuali pada tahun 2015, di Hotel Garuda Jogjakarta, saya mengikuti pelatihan dari master atau tokoh pemasaran di Indonesia bernama, Hermawan Kertajaya. Memang bicaranya terlalu umum, sehingga saya pikir, kalau untuk BPR, ilmu ini harus diturunkan sesuai kondisi SDM, keterbatasan fasilitas, dan keterbatasan jaringan yang ada saat ini,” kata Robert P Fanggidae.

Karena pembatasan itu, kata Robert P Fanggidae, maka BPR hanya melayani satu motif, yaitu motif investasi. Ada constraints lagi, ada kendala, ketika nasabah mau bertransaksi untuk pengeluaran rutin, dengan menempatkan tabungannya di BPR, hanya bisa bertransaksi pada waktu jam kerja atau setelah jam 3 sore, nasabah tidak bisa lagi menarik uangnya.

Karena keterbatasan inilah, termasuk juga struktur yang terbatas di organisasi, kata Robert P Fanggidae, maka pada bulan yang lalu, saat rapat evaluasi bulanan Pengurus Perbarindo NTT kemudian membentuk panitia pelaksana untuk melaksanakan rencana kegiatan terakhir di tahun 2025 ini.

“Setelah melalui diskusi, teman-teman mempercayakan saya sebagai instruktur. Kemudian saya berpikir, secara internal, kita berorganisasi tapi juga bersaing. Ini juga tantangan di internal kita. Saya berpikir, saya terima atau tidak? Karena kita masing-masing tentu punya strategi, punya cara, punya pendekatan, dan itu adalah rahasia suatu perusahaan. Tidak mungkin seorang chef memberitahukan resepnya kepada semua orang,” kata Robert P Fanggidae.

Tetapi kemudian, katanya, kita harus berpikir besar, karena nantinya akan berbalik kepada masing-masinh staf, masing-masing BPR. Yang pasti spesifikasi harus kita tingkatkan. Saya suka contohkan lagu potong bebek angsa, tergantung siapa yang nyanyi. Tapi ya, tergantung masing-masing, karena itu saya bersedia menjadi instruktur dalam kegiatan pelatihan ini,” kata Robert P Fanggidae.

Mahasiswa Sampaikan Keluhan Petani, Mentan Amran Langsung Turun Tangan

Sementara kepada seluruh peserta pelatihan, Robert P Fanggidae mengatakan, bagaimana menterjemahkan, melaksanakan dalam praktek diserahkan kepada masing-masing staf dan manajemen BPR masing-masing. Karena BPR ini bersaing, baik bersaing sehat dengan sesama BPR, maupun bersaing dengan Bank Umum untuk Fundang.

Robert P Fanggidae menambahkan, harusnya seorang nasabah yang dananya dibawah Rp2 niliar, menabung uangnya di BPR, karena dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Selain itu, juga bunganya lebih menguntungkan. “Tapi mengapa nasabah tidak percaya kepada BPR, ternyata harga, price itu, adalah salah satu unsur dalam persaingan dan bukan yang utama atau signifikan, Buktinya, pangsa pasar BPR menurun dari 1.83 persen, menjadi 1,77 persen,” katanya.

Itu artinya, kata Robert P Fanggidae, harga bukan pertimbangan utama bagi pemilik dana untuk menempatkan uangnya di BPR. Karena saat berdiskusi sepintas bersama Kepala OJK Provinsi NTT, Japerman Manalu, disimpulkan perlunya melakukan literasi terus-menerus kepada masyarakat. Memberi pemahaman kepada masyarakat, mendidik masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya pada BPR, dan itulah tujuahn aakhir dari pelatihan ini

“Kita jangan fokus di kelemahan kita, tapi fokus membesarkan kekuatan kita untuk menangkap peluang. Saya berharap pelatihan berakhir di implementasi. Jadi bukan sekedar pelatihan, tapi pulang dari kegiatan ini bisa membawa minimal 3 hal yaitu ilmu, relasi dan pengalaman. Saya juga berharap, ketika pulang bisa membagikannya kepada rekan-rekan di BPR masing-masing,” kata Robert P Fanggidae.

Sementara ketika membuka pelatihan ini, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Japerman Manalu menekankan agar insan BPR/BPRS tidak ragu dengan masa depannya saat bergabung di BPR. Karena ada juga yang sudah bekerja di BPR tetapi masih memilih untuk mengikuti testing CPNS.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement