GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Nasional
Beranda » Berita » Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase, Angkat Keberagaman Multi Etnis, Pererat Persaudaraan dan Partisipasi Masyarakat

Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase, Angkat Keberagaman Multi Etnis, Pererat Persaudaraan dan Partisipasi Masyarakat

Lomba Fashoin Show Busana Daerah untuk Anak-anak di Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase

KUPANG, KABAKIA — Kelurahan Bakunase menggelar Festival Budaya BEBAJA (Bakunase Event Bangkit Untuk Jaya) selama tiga hari di Lapangan Mini Bakunase, mulai Selasa 3 November 2026. Pegelaran Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bakunase Tahun 2026 ini menjadi momentum untuk merawat keberagaman budaya, mempererat persaudaraan, sekaligus menggerakkan partisipasi masyarakat.

Hal tersebut sesuai dengan tema Festival Budaya BEBAJA yakni “Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan, Menggerakkan Partisipasi Masyarakat”. Kegiatan ini menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya dari berbagai daerah di NTT, perlombaan, serta kegiatan yang melibatkan warga setempat.

Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase dibuka Camat Kota Raja, Victor Reyneer Therik, mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis. Turut hadir dalam acara pembukaan, sejumlah pejabat lingkut pemerintah Kota Kupang dan Kecamatan Kota Raja serta para lurah se-wilayah Kecamatan Kota Raja.

Pegelaran Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase digelar meriah dan disambut positif oleh masyarakat kelurahan setempat dan masyarakat di wilayah kelurahan sekitar. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya warga yang terlibat baik sebagai peserta lomba, pelaku UMKM maupun sebagai penonton yang ikut meramaikan.

Kemeriahan Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase juga diwarnai dengan penampilan berbagai atraksi seni budaya dan tarian massal, seperti Tarian Bosan Hala, Tarian Tebe, Tarian Kebalai dan lainnya. Camat Kota Raja bersama para pejabat lainnya juga ambil bagian dalam tarian massal dan berbaur dengan masyarakat yang hadir.

Cegah Gesekan Antarpemuda, Komunitas Timor Oan 99 Serukan Kedamaian di Belu

Ketua Panitia Festival Budaya BEBAJA Kelurahan Bakunase, Nancy Boelan Augusteyn mengatakan, Festival Budaya BEBAJA tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya. Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang untuk membangkitkan berbagai potensi masyarakat, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, pariwisata hingga inklusi sosial.

“Pemilihan nama BEBAJA yang merupakan singkatan dari Bakunase Event Bangkit Untuk Jaya memiliki makna dan tujuan yang lebih luas. Karena itu, festival ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat di Kelurahan Bakunase,” kata Nancy Boelan Augusteyn, saat ditemui di hari terakhir pelaksanaan festival budaya BEBAJA, Kamis (5/11/2026).

Salah satu aspek yang ingin dibangkitkan, kata Nancy, adalah ekonomi masyarakat. Untuk mendukung tujuan tersebut, panitia menghadirkan sekitar 30 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ikut meramaikan festival melalui stan produk dan kuliner.

Selain ekonomi, festival ini juga memberikan perhatian terhadap aspek pendidikan melalui lomba literasi, khususnya lomba bertutur atau bercerita tentang sejarah dan cerita budaya lokal yang ada di Kelurahan Bakunase dan Kota Kupang pada umumnya. Seperti sejarah berdirinya SD Bakunase dan berbagai kisah lokal lainnya.

Lomba bertutur menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan sejarah dan budaya daerah kepada generasi muda, agar tidak kehilangan pengetahuan tentang identitas dan warisan budaya sendiri. Peserta lomba bertutur adalah anak-anak

Buku Biografi Ir. Abraham Paul Liyanto Diluncurkan di Universitas Citra Bangsa, “Diberkati untuk Memberkati”

Selain itu, kata Nancy, panitia juga menyiapkan lomba solo lagu daerah bagi peserta dewasa serta fashion show busana daerah untuk anak-anak sebagai bagian dari upaya mengembangkan kreativitas dan keberanian generasi muda. Fashion show busana daerah menjadi lomba terakhir dalam kegiatan festival budaya BEBAJA ini.

Aspek berikutnya yang ingin dibangkitkan, kata Nancy adalah aspek pariwisata. Kegiatan festival budaya dapat menjadi potensi wisata apabila mendapat perhatian serius dari pemerintah melalui penataan dan pengembangan yang berkelanjutan. Keberadaan kelompok-kelompok masyarakat adat yang masih tumbuh dan berkembang di setiap kelurahan merupakan kekayaan yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya.

“Kalau pemerintah serius menata ini, bukan sekadar kita habiskan saja anggarannya, tetapi benar-benar serius mengembangkannya, maka ini bisa menjadi potensi pariwisata yang luar biasa,” ungkapnya.

Aspek lainnya yang juga dibangkitkan kata Nancy, adalah aspek inklusi sosial. Panitia berupaya memberikan kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok penyandang disabilitas dan masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang untuk berpartisipasi, untuk terlibat.

“Untuk aspek inklusi sosial, kemarin salah satu peserta kami adalah penyandang disabilitas. Jadi, kaum-kaum yang termarginalkan dan terisolasi kami bangkitkan semangatnya agar bisa hadir dan bersama-sama berkolaborasi dalam event ini,” jelas Nancy.

Kota Kupang Raih Dua Penghargaan Kinerja Pengelolaan Keuangan dari KPPN Kupang

Menurut Nancy, berbagai atraksi seni dan budaya ditampilkan dalam kegiatan Festival Budaya Bebaja termasuk melalui berbagai jenis lomba yang disiapkan. Semua RT/RW juga terlibat aktif dan sanggar seni SD Bakunase. Keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi salah satu kekuatan festival ini karena warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian sebagai pelaku seni dan budaya.

Sementara Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Camat Kota Raja, Victor Reyneer Therik, menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat dan pemerintah Kelurahan Bakunase atas terselenggaranya kegiatan Festival Budaya BEBAJA (Bakunase Event Bangkit Untuk Jaya). Semangat untuk bangkit merupakan hal penting yang harus dimiliki generasi bangsa termasuk generasi muda Kelurahan Bakunase.

Pada kesempatan ini, Wali Kota juga mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya yang diwariskan para leluhur untuk kita dan anak cucu. Selain itu, juga diingatkan bahwa masyarakat Kota Kupang adalah masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Karena itu, keberagaman etnis dan budaya harus dipandang sebagai kekuatan yang mempersatukan untuk maju bersama, bukan sebagai pemisah. Kekuatan untuk saling mendukung menuju kehidupan yang lebih baik.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement