GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Nasional
Beranda » Berita » Tiga Orang Nagekeo Melawan Krisis Literasi

Tiga Orang Nagekeo Melawan Krisis Literasi

MBAY, KABAKIA — Di tengah darurat literasi yang membayangi Nusa Tenggara Timur, tiga orang dari Nagekeo datang membawa kabar baik. Dua pekan lalu, di sebuah ruangan besar milik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen di Jakarta, Oskarianus Meta, Maria Sefriana Sebo, dan Ermelinda Ude Ugha berdiri menyampaikan satu keyakinan yaitu krisis literasi di NTT bisa dikalahkan. Syaratnya kolaborasi dan berjejaring.

Oskarianus Meta bisa dipanggi Oskar, adalah lelaki yang gampang tersenyum. Senyumnya renyah, tapi siapa sangka di balik itu ada cerita panjang tentang putus sekolah. Setelah tamat SMP, ia putus sekolah dan menjadi pedagang ikan di pasar. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang menolak padam. Ia kembali ke bangku sekolah dan akhirnya meraih gelar Sastra Inggris dari STIBA Cakrawala Nusantara Kupang.

Pendidikan yang ia tempuh dengan susah payah itu tidak ia simpan untuk diri sendiri. Tahun 2012, Oskar mendirikan Taman Baca Masyarakat bernama Pelita Harapan Rakyat, disingkat PELIHARA. Demi mengisi rak-rak TBM itu, ia rela menjual kerbau, babi, bahkan jagung hasil panen sendiri. Di NTT, ternak adalah simbol kemakmuran keluarga, tapi Oskar memilih mengorbankannya agar anak-anak putus sekolah di desanya bisa memeluk buku dan pengetahuan. “Saya tidak ingin mereka merasakan nasib yang pernah saya rasakan,” ujarnya pelan.

Baca Juga: Rayakan Dies Natalis VII dan Hardiknas 2026, FKIP UCB Hadirkan Fashion Street Berbalut Tenun Ikat NTT

Pada 2013, PELIHARA resmi berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan kini berakreditasi A. Setelah mendidik lebih dari 4.000 anak tidak sekolah (ATS), Oskar menemukan satu pelajaran penting: setiap anak membawa latar dan cara belajarnya sendiri. Dari pengalaman itulah PKBM PELIHARA menerapkan kurikulum yang personal. Setiap anak didampingi sesuai kemampuannya, bukan berdasarkan usia.

Mentan Amran Jawab Isu “Pesta Babi” di Merauke: Yang Kami Bangun Adalah Pesta Pangan

Ada L, misalnya, seorang siswa yang usianya setara kelas 1 SMP, tapi kemampuan bacanya baru selevel kelas 3 SD. Ia tinggal bersama kakek-neneknya yang buta huruf, sementara orang tuanya bekerja di luar negeri. Di NTT, cerita seperti ini sudah biasa. Dua tahun kemudian, L yang tadinya masih mengeja, kini sudah bisa membaca buku dengan pemahaman penuh. Itu terjadi karena L mendapat pendampingan belajar yang personal sesuai kemampuannya.

Bagi Oskar, ini bukti bahwa anak putus sekolah bisa pulih kemampuan belajarnya, asal ditangani satu per satu. Ia percaya betul, pendekatan personal inilah yang bisa jadi kunci untuk mengalahkan krisis literasi di NTT.

Sementara Oskar bergerak dari komunitas, Maria Sefriana Sebo membawa cerita dari sekolah yang letaknya di jalur yang oleh warga sekitar dijuluki “Jalan Golgata”. Jalan menuju SD Katolik Doki memang berat. Berbatu, menanjak tajam, turunannya curam. Tapi Bu Maria begitu Ia dipanggil, dengan suaranya yang lembut dan keteguhan yang tersembunyi di balik kelembutan itu, memilih terus berjalan hari demi hari. Empat tahun lalu, sekolahnya menghadapi kenyataan pahit. Hanya 1,63 persen siswa yang mencapai kompetensi literasi dasar. “Hasil ini membuat sekolah kami dapat rapor merah,” kenang Maria.

Titik balik datang pada 2023. Pemerintah Kabupaten Nagekeo bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan Australia Indonesia, mengenalkan program literasi bersama Taman Baca Pelangi. Perpustakaan yang semula suram dirombak jadi ruang ceria yang mengundang anak berlama lama. Buku buku menarik sesuai jenjang kemampuan mulai tersedia. Guru guru dilatih mengelola perpustakaan dan membacakan buku dengan macam macam cara.

Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru juga didampingi mengajarkan literasi secara lebih terarah. Setiap awal tahun, semua siswa diasesmen kemampuan membacanya. Hasil asesmen itu jadi dasar untuk menyusun strategi dan materi pembelajaran. Maria juga membentuk tim pendamping belajar khusus buat siswa yang paling tertinggal. Pendekatan ini membuat lompatan besar. Salah satu muridnya, sebut saja R, waktu awal kelas 4 hanya bisa membaca suku kata, setara anak kelas awal. Sekarang ia sudah bisa membaca dengan pemahaman. Dulu waktu istirahat ia habiskan dengan bermain, sekarang ia malah memilih membaca buku di perpustakaan.

Rektor UNM: Tak Ada Alasan Meragukan Indonesia Sudah Swasembada Pangan

Hasilnya terlihat jelas di rapor pendidikan sekolah. Tahun 2021 semua indikator masih merah. Tahun 2022 dan 2023 naik ke kuning. Puncaknya, pada 2024 dan 2025, seluruh indikator rapor pendidikan SD Katolik Doki berwarna hijau. Jalan Golgata yang dulu berat itu kini berubah jadi jalan menuju kemenangan.

Maria percaya pelatihan dan pendampingan guru yang intensif, pemanfaatan buku anak, dan bantuan belajar kepada anak yang tertinggal menjadi alat pengungkit kemampuan membaca siswa disekolahnya. Alat ini pula yang bisa digunakan untuk mengalahkan krisis literasi di NTT.

Lain lagi cerita dari kaki Gunung Ebulobo. Di sana, Ermelinda Ude Ugha menghadapi 18 murid kelas I yang semuanya tidak bisa membaca dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Dari 18 anak, hanya satu yang kenal huruf. Ironisnya, semua pelajaran tetap harus disampaikan dalam bahasa Indonesia. Ermelinda tidak mundur menghadapi kenyataan itu. Ia justru mengubah keterbatasan menjadi strategi: menjadikan bahasa Nage sebagai jembatan menuju bahasa Indonesia.

Langkah pertama adalah memetakan kondisi setiap anak. Ermelinda menggunakan Profil Belajar Siswa (PBS) untuk mengenali kemampuan dan hambatan masing-masing. Dari situ teridentifikasi satu anak berkebutuhan khusus. Kepala sekolah lalu membentuk tim pendamping belajar khusus bagi anak-anak yang belum mengenal huruf sama sekali, dan mereka didampingi satu per satu.

Pendekatan ini bisa berjalan karena guru-guru di Nagekeo sudah dilatih menggunakan bahasa Nage sebagai bahasa transisi. Setiap hari, pembelajaran dalam bahasa Nage diberikan selama 35 menit untuk kelas awal dan 15 menit untuk kelas tinggi. Selain di sekolah, bantuan belajar juga disediakan di rumah dengan waktu yang fleksibel. Satu hal yang menarik: siswa boleh memilih sendiri guru pendamping yang mereka sukai, sebuah pilihan kecil yang ternyata berdampak besar pada kenyamanan belajar mereka.

Dialog di UNM, Mentan Amran Respons Cepat Suara Mahasiswa dan Dosen

Dua bulan menjalani pendampingan intensif, kemampuan membaca anak-anak naik ke level membaca kata. Ermelinda kemudian mulai memanfaatkan perpustakaan yang sudah ditata ramah anak berkat dukungan Taman Baca Pelangi. Setiap Rabu, siswa bergiliran membaca di perpustakaan. Buku boleh dipinjam dan dibungkus plastik agar tidak basah kena hujan.

Sepuluh bulan berselang, hasilnya berbicara sendiri. Dari semula hanya satu anak yang mengenal huruf, kini 14 siswa sudah lancar membaca dan 3 di antaranya bahkan sudah sampai ke tahap membaca pemahaman. Bagi Ermelinda, ada tiga hal yang menjadi kunci kemajuan ini: panggilan hidup sebagai guru, pelatihan yang intensif, dan ketersediaan buku yang sesuai.

Yang paling mendasar dari semua itu adalah pendekatan transisi bahasa. Anak-anak NTT mayoritas tumbuh dalam bahasa daerah, dan ketika masuk sekolah formal, mereka menghadapi bahasa Indonesia yang terasa asing. Memulai pembelajaran dari bahasa yang sudah mereka kuasai bukan langkah mundur, melainkan jalan yang justru mempercepat pemahaman. Di Nagekeo, itulah yang terbukti mengubah segalanya.

Tiga kisah tadi tidak lahir dari keberanian satu dua orang saja. Di belakangnya ada kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Program INOVASI, Taman Baca Pelangi, sekolah, dan komunitas. Kepala sekolah, pengawas, guru, dan pegiat literasi mendapat pelatihan dan pendampingan intensif. Mereka dibekali cara melakukan asesmen, mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi, teknik membacakan buku, hingga mengelola pembelajaran dengan pendekatan transisi dari bahasa ibu ke bahasa Indonesia. Perpustakaan pun dibenahi agar ramah dan menyenangkan bagi anak, dan buku-buku yang sesuai disediakan. Hasilnya tidak main-main. Hasilnya, Rapor Pendidikan Nagekeo bertengger di peringkat atas Provinsi NTT dengan status hijau tiga tahun berturut-turut.

Tiga orang dari Nagekeo ini datang membawa pesan sederhana tapi penting. Di mana masih ada guru yang rela menapaki Jalan Golgata, di mana ada lelaki yang menjual ternaknya demi buku, di mana ada perempuan yang memilih bahasa ibu sebagai jembatan, di sanalah krisis literasi bisa dikalahkan. NTT tidak kekurangan anak cerdas. NTT hanya perlu lebih banyak kolaborasi dan berjejaring seperti ini.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement