KUPANG, KUPANG – PT PLN (Persero) UPP Nusra 3 berkerjasama dengan Tribun EO dan media Pos Kupang meluncurkan sebuah karya besar berupa Film Dokumenter berjudul “Matahari Dalam Tanah”. Film dokumenter karya putra-putri Nusa Tenggara Timur (NTT) ini resmi diluncurkan pada Minggu 1 Maret 2026.
Acara launching film dokumenter berisi bercerita tentang “Perjuangan Menggali Energi Panas yang Tersimpan dan Berasal dari Dalam Bumi” ini digelar di Ballroom Palacio Hotel Aston Kupang. Pemeran utama dalam film ini adalah Maria S Maunino, perempuan berdarah Timor, yang memainkan peran sebagai mahasiswi dari Anak Suku Dalam Atadei, Kabupaten Lembata.
Launching Film Dokumenter “Matahari Dalam Tanah” ini ditandai dengan pemutaran film berdurasi 1 jam 7 menit tersebut, untuk ditonton bersama. Sebuah perpaduan antara karya jurnalistik dengan karya seni perfilm-an yang dikemas apik dalam bentuk film dokumenter.
Acara launhcing film dokumenter dihadiri Senior Manager PLN UIP Nusa Tenggara (Nusra) Bruli Victor Tarigan, Senior Manager Transmisi & Distribusi PLN UIW NTT Suparje Wardiyono, Manager PLN UPP Nusra 3 Agung Triwibowo, Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., Asisten Intelijen Kejati NTT Muhammad Ahsan Tamrin, dan pejabat pemerintah lainnya.
Selain itu, juga dihadiri Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion D.B Putra, General Manager PT Timor Media Grafika, Margaretha Iin Wahyuningrum, pemeran utama film dokumenter Maria Sholastika Maunino, serta Pimpinan Tribun EO Kupang, dan para undangan lain serta awak media.
Launching Film Dokumenter “Matahari Dalam Tanah” ini ditandai dengan pemutaran film berdurasi 1 jam 7 menit tersebut, untuk ditonton bersama. Sebuah perpaduan antara karya jurnalistik dengan karya seni perfilm-an yang dikemas apik dalam bentuk film dokumenter.
Kisah film dokumenter berjudul “Matahari Dalam Tanah” ini diawali dengan cerita tentang Mira, seorang mahasiswi Anak Suku Dalam Atadei di Kabupaten Lembata, yang mencari jawaban tentang Proyek Geothermal yang akan dibangun di kampung halamannya. Mengapa harus ada pro-kontra, apa manfaat proyek geothermal, dan mengapa masyarakat ragu menerima kehadiran proyek geothermal?.
Mira kemudian berangkat ke Kabupaten Manggarai untuk mendapatkan informasi tentang proyek geothermal PLTP Ulummbu, pembangkit listrik tenaga panas bumi yang pertama dibangun PT PLN (Persero) di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari tempat ini, diperoleh fakta kalau ternyata proyek geothermal PLTP Ulumbu berjalan baik dan membawa manfaat bagi warga sekitar serta energi Listrik yang dihasilkan jusru menopang kebutuhan listrik masyarakat di Pulau Flores.
Warga sekitar pun menerima keberadaan proyek geothermal PLTP Ulumbu dan merasakan adanya manfaat. Selain itu, tokoh adat dan warga setempat juga menyebut kalau kehadiran PLTP Ulumbu justru membawa terang dan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Ada bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat dari PLN, bahkan ada yang diterima bekerja sebagai pegawai di PLTP tersebut. Ada harapan bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik, berkat kehadiran proyek geothermal.
Dari PLTP Ulumbu di Manggarai, gadis Bernama Mira itu lalu pergi ke proyek geothermal di PLTP Mataloko, Kabupaten Ngada. PLTP Mataloko merupakan proyek geothermal kedua setelah PLTP Ulumbu, yang dibangun pemerintah melalui PT PLN (Persero). Di PLTP Mataloko ini, proyek geothermal masih sementara dibangun.
Munculnya manifestasi panas bumi di dekat lokasi pengeboran proyek geothermal sempat membuat warga sekitar cemas, namun ternyata itu merupakan hal biasa dan tidak harus ditakutkan. Bahkan, warga sekitar menyambut baik kehadiran proyek geothermal PLTP Mataloko tersebut. Tokoh adat dan warga sekitar mengaku bangga dengan kehadiran proyek geothermal di wilayah mereka.
Setelah mendapatkan banyak penjelasan, baik dari para warga dan tokoh adat sekitar proyek geothermal, serta pihak pemerintah termasuk Bupati dan Kepala Kantor Pertanahan di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada, Putri cantik dari Pulau Lembata itu kemudian kembali ke kampung halamannya di Suku Dalam Atadei.
Mira kemudian menyimpulkan, kalau hal yang paling penting dalam kaitan dengan pro-kontra pembangunan proyek geothermal, adalah perlunya mendengar penjelasan tentang proyek tersebut. Tentang manfaat kehadiran proyek geothermal, tentang sistem kerja dan tahapan pelaksanaan proyeknya, tentang proses pembebasan tanah di lokasi proyek, tentang isu ancaman terhadap kerusakan lingkungan, dan banyak hal lainnya.
Semuanya harus didengar, dan PT PLN (Persero) bersama pihak ketiga sebagai pelaksana lapangan, haruslah memberi penjelasan yang membuat warga sekitar paham. Karena sesungguhnya yang dirasakan masyarakat bukanlah menolak, tetapi masih bingung dengan kehadiran proyek geothermal. Padahal manfaatnya sangat besar sebagai sumber energi baru terbarukan, serta manfaat ikutan lainnya.
Sangat disayangkan kalau film dokumenter yang diperankan Maria S Maunino sebagai mahasiswa anak Suku Dalam Atadei bernama Mira ini, tidak ditonton sebelum mengambil keputusan untuk menolak ataupun menerima pembangunan proyek geothermal di suatu wilayah. Karena berbagai jawaban atas berbagai pertanyaan terkait proyek geothermal ada dalam cerita film dokumenter ini.
Apalagi, Maria S Maunino sebagai pemeran utama, bersama Vinsensius Nuba (Kepala Desa Nubahaeraka), Agustina Tuto (ibu Mira) dan Damasus Taru (ayah Mira) selaku pemeran pembantu, telah begitu apik memainkan peran dalam film tersebut. Sehingga pesan penting dalam film ini dapat tersampaikan dengan sangat jelas bagi yang menontonnya.
Dalam sambutannya, Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion D.B Putra, menyebut kalau film dokumenter berjudul “Matahari Dalam Tanah” merupakan karya putra-putri terbaik NTT di bidang perfilm-an yang dipersembahkan Tribun EO bersama PLN UPP Nusra 3, dan Pos Kupang. Melalui film dokumenter ini, Pos Kupang sebagai media tertua di Provinsi NTT ingin mempersembahkan karya yang memberi pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat tentang proyek geothermal.
Sementara Senior Manager PLN UIP Nusa Tenggara (Nusra) Bruli Victor Tarigan, pada kesempatan yang sama, juga menyambut baik peluncuran film dokumenter berjudul “Matahari Dalam Tanah” ini. Denagn harapan masyarakat NTT makin memahami tentang kehadiran proyek geothermal di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Dalam fil ini, sebagai Executive Producer: Tanto Bisilisin, sebagai Produser: Clara Marly, sebagai Direktor: Faldo Lango, sebagai Scrip Watter: Clara Marly, Camera Person: Stenly Dillak, Editor: Faldo Lango, Music Scoring: Ady Lelan, dan sebagai Grafic Designer: Tedy Diaz.
(*)’





Komentar