GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Inspirasi
Beranda » Berita » Pesta Pelindung Kapela Santo Agustinus Bello Menjadi Momentum Pertobatan dan Pembaruan Iman

Pesta Pelindung Kapela Santo Agustinus Bello Menjadi Momentum Pertobatan dan Pembaruan Iman

KUPANG, KABAKIA — Hampir delapan dekade setelah benih iman Katolik pertama kali ditanam di Bello, Kota Kupang, komunitas umat Katolik di wilayah itu terus bertumbuh. Dari sebuah keluarga yang membawa iman Katolik sepulang dari tanah rantau pada 1946, kini komunitas tersebut telah berkembang menjadi hampir 3.000 umat.

Perjalanan panjang itu kembali dikenang ketika umat Katolik Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, merayakan pesta pelindung kapela, Jumat (28/8/2026). Perayaan bertepatan dengan Peringatan Wajib Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja.

Perayaan Ekaristi berlangsung sederhana dan khidmat. Enam imam hadir dalam perayaan tersebut dengan Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, RD Longginus Bone, bertindak sebagai imam selebran. Homili disampaikan Pater Armando, SVD.

Nuansa perayaan semakin terasa khas ketika umat datang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Koor yang mengiringi perayaan juga tampil dengan busana adat Manggarai. Sejumlah lagu liturgi dalam bahasa Manggarai dilantunkan dan memberikan warna tersendiri dalam perayaan.

Keragaman budaya itu berpadu dalam satu perayaan iman. Umat dari berbagai latar belakang duduk bersama, berdoa bersama, dan merayakan Ekaristi sebagai satu komunitas.

Kesejahteraan Petani Terus Menguat, NTP Cetak Rekor 132,60 di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Bagi umat Bello, pesta pelindung tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Perayaan itu menjadi kesempatan untuk bersyukur atas perjalanan komunitas sekaligus meneguhkan kembali semangat persaudaraan dan pelayanan.

Pertobatan sebagai Jalan Hidup

Pesan pertobatan menjadi salah satu pokok utama homili Pater Armando.

Ia mengingatkan umat bahwa jalan yang ditawarkan Yesus sering kali berbeda dari logika dunia. Ketika manusia cenderung membalas kesalahan, mempertahankan kepentingan diri, atau mengejar keberhasilan, Yesus justru mengajarkan pengampunan, pengorbanan, pelayanan, dan kerendahan hati.

“Mari kita belajar mengampuni, memaafkan, berkorban, melayani, dan rendah hati,” ujar Pater Armando.

33 Negara Siapkan Stok Darurat, Mentan Amran: Indonesia Bersyukur, Pangan Aman di Tengah Gejolak Dunia

Jalan tersebut, menurut dia, mungkin terlihat sebagai sebuah “kebodohan” dalam ukuran dunia. Namun, justru melalui jalan salib itulah kekuatan Allah dinyatakan.

Pesan itu kemudian dikaitkan dengan Injil tentang lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh. Perbedaan keduanya bukan karena kecantikan, status sosial, keberhasilan, ataupun penampilan.

Yang membedakan mereka adalah kesiapan.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi kehidupan umat saat ini. Menjadi orang beriman bukan hanya soal hadir dalam perayaan keagamaan, tetapi juga tentang kesiapan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Belajar dari Santo Agustinus

Misa Pembukaan Pesta Pelindung Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata, Kehadiran Co Pastor Disambut Natoni dan Tarian Adat

Pater Armando mengajak umat melihat lebih dalam perjalanan hidup Santo Agustinus.

Agustinus dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran Gereja. Namun, perjalanan hidupnya pada masa muda jauh dari sempurna.

Ia pernah mengejar kesenangan duniawi dan menjalani kehidupan yang kelam. Ia bahkan memiliki seorang anak di luar pernikahan.

Namun, pengalaman masa lalu tersebut tidak menjadi akhir perjalanan hidupnya.

Justru dari pergulatan panjang itu, Agustinus menemukan jalan pertobatan.

“Apapun dosa kita, jangan pernah merasa terlambat untuk datang meminta kerahiman Tuhan,” kata Pater Armando.

Menurut dia, kisah Agustinus memperlihatkan bahwa rahmat Allah mampu mengubah kehidupan manusia. Masa lalu yang kelam tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk kembali kepada Tuhan.

Agustinus memiliki banyak pengetahuan dan jawaban. Namun, kepandaian itu belum membuat hatinya menemukan ketenangan. Ia terus mencari jawaban atas pertanyaan mendasar tentang kehidupan.

Untuk apa manusia hidup?

Pencarian panjang itu akhirnya mengantarnya kepada Kristus.

Dalam perjalanan pertobatannya, Agustinus pernah mendengar seruan, “Ambillah dan bacalah.” Seruan tersebut menjadi salah satu titik penting yang mengarahkan dirinya semakin dekat kepada Tuhan.

Karena itu, Pater Armando mengingatkan umat agar tidak berhenti pada pengetahuan tentang Tuhan.

Iman, katanya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan hanya merayakan Santo Agustinus, tetapi hiduplah dengan semangat pertobatan dan pembaruan yang pernah ia jalani,” pesannya.

Dari Satu Keluarga Menjadi Ribuan Umat

Pesan pertobatan dan pembaruan itu menemukan konteksnya dalam perjalanan umat Katolik Bello sendiri.

Sekitar 1946, iman Katolik mulai hadir di Bello melalui keluarga almarhum Samuel Siki Bekon Saidjuna, mantan tentara KNIL yang kembali dari tanah rantau dengan membawa istrinya, Martha Bekon Saidjuna.

Martha telah lebih dahulu memeluk agama Katolik. Dari keluarga inilah benih iman Katolik mulai tumbuh di Bello.

Hampir delapan puluh tahun kemudian, benih tersebut telah berkembang menjadi komunitas besar.

Hingga Juli 2026, jumlah umat Stasi Santo Agustinus Bello telah mendekati 3.000 jiwa. Mereka tersebar dalam 20 kelompok umat basis dan 11 wilayah.

Pertumbuhan itu menjadi gambaran perjalanan panjang sebuah komunitas iman yang dibangun dari kesetiaan generasi ke generasi.

Sejarah para perintis tersebut juga terus dikenang dalam kehidupan umat. Dalam perayaan Ekaristi pesta pelindung tahun ini, para perintis hadirnya iman Katolik di Bello turut didoakan.

Bagi umat, mengenang para pendahulu bukan sekadar mengingat masa lalu. Kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan Gereja hari ini dibangun di atas iman, pengorbanan, dan kesetiaan orang-orang yang telah lebih dahulu berjalan.

Iman yang Dibangun Bersama

Pertumbuhan umat juga diikuti pembangunan sarana peribadatan.

Saat ini umat Stasi Santo Agustinus Bello tengah menyelesaikan pembangunan sebuah kapela pendukung di wilayah RT 20, Bello. Bangunan tersebut kini telah memasuki tahap penyelesaian atap.

Pembangunan dilakukan dengan semangat gotong royong dan keterlibatan umat.

Kapela itu kelak bukan hanya menjadi bangunan fisik. Ia diharapkan menjadi ruang perjumpaan umat, tempat doa, pembinaan iman, dan penguatan persaudaraan.

Perayaan pesta pelindung kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Tidak ada kemewahan yang menjadi tujuan utama. Yang terasa justru suasana kekeluargaan.

Pakaian adat dari berbagai daerah, lantunan lagu liturgi dalam bahasa Manggarai, doa, dan kebersamaan umat menjadi gambaran bahwa keberagaman dapat menemukan tempatnya dalam satu iman.

Dari perjalanan iman yang dimulai sekitar 1946 hingga komunitas yang kini mendekati 3.000 umat, Stasi Santo Agustinus Bello sedang menulis sejarahnya sendiri.

Dan pesan Santo Agustinus kembali menemukan maknanya: perjalanan iman bukan hanya tentang mengetahui kebenaran, melainkan keberanian untuk berubah, kembali kepada Tuhan, dan menghidupi kasih dalam kehidupan bersama.

Bukan sekadar merayakan Santo Agustinus, tetapi melanjutkan semangat pertobatan yang pernah mengubah hidupnya.

(goe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement